MAKALAH
AKUTANSI MULTINASIONAL:
TRANSLASI LAPORAN KEUANGAN ENTITAS
ASING
Di susun oleh:
1. Baiq
Azmiwati (BO1.11.0003)
2.
Sarpan (B01.11.0020)
3.
Sigit Purnomo (B01.11.0021)
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI
PELITA NUSANTARA
SEMARANG
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada saat perusahaan multinasional
indonesia menyusun laporan keuangan untuk pelaporan kepada pemegang sahamnya,
perusahhan harus memasukan oprasi yang berbasis di luar negeri yang dinyatakan
dalam mata uang rupiah dan dilaporkan dengan menggunakan prinsip akutansi yang
berlaku umum di i ndonesia. Operasi di luar negeri tersebut termasuk anak
perusahaan, cabang, atau investasi dari perusahaan indonesia. Makalah ini
membahas tentang translasi(penjabaran) laporan keungan entitas usaha luar
negeri ke rupiah. Penyajian kembaliini diperlukan sebelum laporan keuangan
tersebut digabungkan atau dikonsolidasi dengan laporan keuangan induk
perusahaan indonesia, yang dinyatakan dalam rupiah.
Pada saat penyusunan laporan keuangan,
akuntan harus mempertimbangkan perbedaan dalam prinsip-prinsip akutansi dan
perbedaan dalam mata uang yang di gunakan untuk mengukur oprasi entias luar
negri. Sebagai contoh, anak perusahaan indonesia di Inggris memberikan laporan
keuangan ke induk perusahaan yang dinyatakan dalam poundsterling, menggunakan
sistem akutansi inggris yang berbeda dengan metode akutansi dan pengukuran di
Indonesia. Induk perusahaan di indonesia secara umum harus melakukan
langkah-langkah berikut dalam proses translasi dan konsolidasi anak perusahaan
di Inggris berikut.
1.
Menerima laporan
keuangan anak perusahaan Inggris yang dilaporkan dalam pounsterling.
2.
Menyajikan
kembali laporan keuangan tersebut agar sesuai dengan prinsip akutansi yang
berlaku umum di Indonesia.
3.
Mentranslasikan
laporan keuangan yang di ukur dalam pounsterling menjadi nilai setara rupiah.
Tiap saldoakun entitas luar negri masing-masing mentranslasikan menjadi nilai setara rupiah sebagai berikut.
|
Akun
yang diukur dalam
Unit
mata uanag asing
|
x
|
Nilai
tukar yang
Sesuai
|
=
|
Akun
yang diukur dalam nilai
Setara
rupiah
|
4. Mengonsolidasi
akun-akun anak perusahaan yang telah ditranslasikan yang sudah diukur
dalam rupiah, dengan akun-akun induk perusahaan.
1.2
Rumusan Masalah
Dari
latar belakang yang telah di jelaskan
diatas dapat dirumuskan sebuah masalah sebagai berikut:
1.
Apa saja
perbedaan dalam prinsip akutansi?
2.
Bagaiman
penentuan mata uang fungsional?
3.
Bagaimana
menyajikan kembali laporan keuangan entitas asing kedalam rupiah?
4.
Bagaimana
penyajian laporan keungan dari selisih translasi?
5.
Bagaimana cara
investasi luar negeri dan anak perusahaan tidak dikonsolidasi?
6.
Bagaimana cara
penilaian persediaan nilai terendah antara biaya perolehan dan nilai pasar
dalam pengukuran?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Perbedaan Dalam Prinsip Akutansi
Metode-metode
yang digunakan untuk mengukur aktivitas ekonomi berbeda-beda di seluruh
dunia.kondisi perekonomian suatu negara, masalah hukum, pndidikan dan sistem
politk, perkembangan teknologi, budaya dan tradisi, serta berbgai fakto-faktor
sosial ekonomi lainya, merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan standar akutansidan
profesi di suatu negara. Perbedaan ini akan menyebabkan adanya perbedaan yang
signifikan antara standar-standar akutansi di berbagai negara. Ketidakseragaman
standar di berbagai negara akan menimbulkan berbagai masalah bagi perusahaan,
pihak penyusun dan pengguna laporan keuangan. Beberapa negara mengembangkan
prinsip akutansinya berdasarkan kebutuhan informasi dan otoritas pajak. Negara
lain mempunyai prinsip akutansi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan dari
pemerintah pusoat sebagai perencana ekonomi. Model di Indonesia berfokus pada
kebutuhan informasi pemegang saham biasa ataun pihak pemberi kredit melalui
penerapan prinsip akutansi yang berlaku umum.
Standar
pelaporan akutansi yang utama saat ini sedang dalam proses penyusunan oleh International Accounting standard Board
(IASB). IASB adalah sebuah badan yang memeperoleh mandat untuk menyusun
seperangkat standar laporan keuangan international dan mendorong seluruh pihak
untuk mengadopsi standar yang berlaku secara international tersebut. IASB
mengatur susunan keanggotaan, dengan komposisi sebagai berikut :
ISAB mengumumkan
sebuah standar pelaporan yang disebut sebagai Setandar Pelaporan Keuangan
Internasional (International Financial
Reporting Standards-IFRSs). Sebelum terbentuknya ISAB, International Accounting Standard Committe telah menerbitkan
International Accountig Standard (IASs). IASs di terbitkan dari tahun 1973
hingga tahun 2001. IASB mengadopsi IASs secara keseluruhan dan sekaligus
mengembangkanya, yang disebut IFRSs.
2.2
Penentuan Mata Uang Fungsional
Ada
dua isu yang ditunjukan pada laporan keuangan yang ditranslasikan dari mata
uang asing pada rupiah Indonesia yaitu:
1. Nilai
tukar manakah yang harus digunakan untuk mentraslasikan nilai mata uang asing
menjadi mata uang domestik?
2. Bagaimanakah
seharusnya perlkuan atas keuntungan atau kerugian tersebut?Haruskah hal itu
dimasukan dalam laba rugi?
Ada
tiga kemungkinan nilai tukar yang
digunakandalam mengonversi nilai mata uang asing menjadi rupiah yaitu:
1. Nilai
tukar sekarang, merupakan nilai tukar pada akhir tanggal neraca
2. Nilai
tukar historis, merupakan nilai tukar yang pada saat transakasi awal terjadi,
seperti nilai tukar pada tanggal saat aset diterima atau kewajiban diakui.
3. Nilai
tukar rata-rata, merupakan nilai tukar rata-rata selama suatu periode.
PSAK
No 11 tentang “translasi mata uang asing” (PSAK 11) memberikan panduan khusus
untuk mentranslasi laporan euangan dari mata uang asing menjadi mata uang
rupiah. Tujuan dari PSAK 11 menyajikan hasi secara langsung memeperlihatkan
pengaruh perubahan ekonomi dari pergerakan nilai tukar. PSAK 11 juga
menjelaskan tentang pencapaian keuangan dan hubunganya dalam laporan keuangan
dengan mata uang asing melalui proses translasi. PSAK mengadopsi konsep uanhg
kungan fungsional (functional currency) yang definisikan sebagai mata uang dari
lingkungan ekonomi primer kauntuk memebedakan antara dua jenis kegiatan
operasional luar negeri yaitu;
1. Kegiatan
dikelola sendiri dan terintegrasi dengan lingkunga lokal dimana entitas asing
itu beroprasi, dan
2. Kegiatan
terpisah dari lingkungan lokal dan terintegrasi dengan induknya.
Indikator-indikator
Mata Uang fungsional
|
Indikator
|
Mata
uang sebagai mata uang fungsional jika memenuhi indikator di bawah ini
|
|
Arus kas
|
Arus kas yang berhubungan dengan
kegiatan utama perusahaan didomonasi oleh mata uang tersebut.
|
|
Harga jual
|
Harga jual dalam jangka pendek sangat
terpengaru dengan perubahan nilai mata uang tersebut atau produksi perusahaan
sebagian besar di ekspor.
|
|
Beban
|
Beban dipengaruhi oleh perubahan nilai
mata uang.
|
Akan
tetapi, beberapa entitas asing menggunakan mata uang fungsional yang berbeda
dengan mata uang lokalnya. DSAK telah mengadopsi pendekatan mata uang
fungsional setelah mempertimbangkan tujuan dari prosestranslasi berikut.
1. Memberikan
informasi yang secara umum sesuai dengan pengaruh ekonomi yang diharapkan dari
perubahan nilai tukar terhadap arus kas dan ekuitas perusahaan.
2. Mencerminkan
laporan keuangan konsolidasi hasil keuangan dan hubungan antara masing-masing
entitas konsolidasi dalam mata uang fungsional yang sesuai dengan prinsip
akutansi yang berlaku secara umum di Indonesia.
2.2 Penentuan Mata Uang Fungsional
di Lingkungan dengan Tingkat Inflasi Tinggi
Pengecualian atas kriteria pemilihan
mata uang asing dikhususkan jika entitas asing berlokasi di negara seperti
Argentina dan Peru yang mengalami inflasi yang sangat tinggi. Inflasi yang
sangat tinggi didevinisikan sebagai inflasi yang melibihi 100% selama periode 3
tahun. PSAK memutuskan bahwa volativitas dalam mata uang asing dengan hiperinflasi mendistorsi laporan
keuangan jika mata uang lokal dipergunakan sebagai mata uang fungsional entitas
asing. Oleh karna itu, dalam kasus oprasi entitas asing ang berbeda dengan
perekonomian dengan tingkat inflasi yang sangat tinggi, mata uang pelaporan
dari indu perusahaan Indonesia-rupiah-harus digunakan sebagai mata uang
fungsional entitas asing. Pengecualian ini menyegah nilai aset dan perubahan
laporan laba rugi yang tidak realistis jika keadaan hiperinflasi tersebut
diabaikan dan presedur translasi yang normal digunakan. Sebagai contoh,
asumsikan bahwa anak perusahaan di luar negeri membangun gedung dengan biaya
1.000.000 peso pada saat nilai tukar adalah Rp500 = 1 peso. Kemudian
diasumsikan bahwa karna adanya hiperinflasi dinegara anak perusahaan luar
negeri trsebut, maka nilai tukar menjadi Rp0,05 = 1 peso. Nilai gedung hasil
translasi pada saat dibangun dan setelah hiperinflasi adalah sebagai berikut.
|
Jumlah
|
Tanggal Pembangunan
|
Setelah Hiperinflasi
|
|||
|
(peso)
|
Nilai
Tukar
|
Jumlah
hasil Translasi
|
Nilai
Tukar
|
Jumlah
Hasil Traslasi
|
|
|
1.000.000
|
Rp500
|
Rp500.000.000
|
Rp0,05
|
Rp50.000
|
|
Nilai translasi setelah hiperinflasi
tidak mencerminkan nilai pasar atau biaya prolehan historis dari gedung
tersebut. Oleh karna itu, PSAK mengharuskan penggunaan rupiah sebagai mata uang
fungsional dalam kasus hiperinflasi untuk memeberikan stabilitas dalam laporan
keuangan.
2.3 Translasi Versus Pengukuran
Kembali Laporan Keuangan Asing
Terdapat dua metode yang berbeda
untuk menyajikan kembali laporan keuangan entitas sing kedalam rupiah yaitu;
1. Tranlasi
laporan keuangan entitas asing kerupiah.
2. Pengukuran
kembali laporan keuangan entitas asing kemata uang fungsional entitas tersebut.
Setelah
penguuran kembali, keuangan tersebut harus ditranslasikan jika mata uang
fungsionalnya bukan rupiah. Jika mata uang fungsionalnya adalah rupiah maka
tidak diperlukan translasi lagi.
Translasi adalah metode yang umum
digunakan dan diterapkan jika mata uang lokal adalah mata uang fungsional
entitas asing. Inin merupakam kasus normal dimana, sebagai contoh, anak
perusahaan Indonesia di Prancis menggunakan euro ke rupiah. Setiap selisih
translasi yang terjadi akan dimasukan srbagai komponen laba komprensif. Oleh
karna pendapatan dan beban laba rugi ditranslasikan dengan mengguakan nilai
tukar rata-rata sepanjang periode pelaoran. Metode translasi sering disebut sebagai
metode nilai tukar sekarang (current rate methods).
Metode yang digunakan untuk
pengukuran kembali laporan keuangan dari mata uang lokal kepada mata uang
fungsional disebut metode temporal (temporal methods). Tabel
berikutmenyajikan metode-metode yang dapat diguakan oleh perusahaan Indonesia
untuk menyatakn kembali laporan keuangan afiliasi asing menjadi rupiah.
|
Mata
uang pembukaan dan
Pencatatan
afiliasi luar negri
|
Mata
uang fungsional
|
Metode
penyataan kembali
|
|
Mata
uang lokal (yaitu mata uang negara tempat afiliasi berlokasi) mata uang lokal
|
Mata
uang lokal
Rupiah
indonesia (seperti yang diharuskan dalam perekonomian hiperinflasi)
|
Translasi
ke rupiah menggunakan nilai tukar sekarang.
Diukur
kembali dari mata uang lokal kerupiah
Pertama, diukur kembali dari mata uang lokal
kemata uang fungsional, kemudian di translasikan dari mata uang fungsional ke
rupiah.
Tidak
diperlukan pernyataan kembali; suadah dinyatakan dalam rupiah
|
|
Mata uang lokal
|
Mata
uang negara ketiga (bukan matauang lokal atau rupiah
|
|
|
Rupiah indonesia
|
Rupiah indonesia
|
2.4 Translasi Laporan Keuangan Mata
Uang Fungsional Menjadi Mata Uang Pelaporan Perusahaan Indonesia
Sebagian besar entitas bisnis
melakukan transaksi dan mencatat aktivitas bisnisnya dalam mata uang lokal.
Oleh karna itu, mata uang lokal dari entitas asing dalah matauang
fungsionalnya. Translasi laporan keuangan entitas asing kedalam rupiah
merupakan proses yang relatif sederhana.
DSAK menyakini bahwa hubungan
ekonomi yang mendasari disajkanya laporan keuangan entitas asing tidak boleh
terdistori atau berubah selama proses translasi dari mata uang fungsional
entitas asing menjadi mata uang asing induk perusahaan. Sebagai contoh, jika
laporan keuangan mata uang fngsional melaorka rasio laancar 2:1 dan laba kotor
60% dari penjualan, maka hubungan in harus tetap dalam proses traslasi menjadi
mata uang pelaporan induk perusahaan Indonesia. Merupakan hal yang penting
untuk dapat mengevaluasi kinerja dari manajemen afiliasi asing dengan
menggunakn ukuran ekonomi yang sama dengan yang digunakan dalam operasi entitas
asing. Untuk memepertahankan hubungan ekonomi tersebut dalam laporan keuangan
mata uag fungsional, saldo akun harus ditranslasikan dengan nilai tukar yang
sebanding.
Secara ringkas, translasi laporan
keuangan entitas asing dari mata uang fungsional kemata uang pelaporan
perusahaan Indonesia adalah sebagai berikut;
|
Akun laporan laba rugi:
Pendapatan dan beban
|
Umumnya, nilai
tukar rata-rata tertimbang untuk periode laporan
|
|
Akan neraca:
Aset dan kewajban
Ekuitas pemegang saham
|
Nilai tukar
sekarang pada tanggal neraca
Nilai tukar
historis
|
Oleh
karna untuk translasi masing-masing aun entitas asing digunakan kurs yang
berbeda-beda, maka umumnya debit dan kredit dalam neraca percobaan setelah
translasi tidak sama. Pos penyeimbang debit percobaan translasi dengan
kreditnya disebut selisih translasi.
2.4.1 Penyajian Laporan Keuangan dari selisih Translasi.
Selisih transasi dari prises
translasi adalah bagian dari pendapatan komprehensif untuk periode terseut.
Pendapatn kompreensif termasuk emua perubahan dalam ekuitas selama tahun
berjalan kecuali perubahan yang timbul daru investasi pemilik dan pembagian ke
pemilik. Pemdapatan komprehensif
termasu laba bersih dan “pendapat
komperensif lainya” yang merupakan bagian dari perubahan aset bersih
perusahaan dari sumber selain pemilik (yaitu bukan investasi modal tambahan dan
deviden) selma periode berjalan. PSAK mengharuskan pelaporan pendapatan
komperensif sebagai bagian dari laporan keuangan utama entitas. Pos utama yang
menjadi bagian dari pendapatan komperensif lainya adalah perubahan selisih
translasi selama periode berjalan., nilai arus kas, dan penyesuaian dalam
kewajibana pensiun minimum.
Terdapat beberapa alternatif format
penyajian untuk pendapatan komprehensif. Laporan tunggal, pendekatan laporan
gabungan, pertama menyajikan pos-pos dalam laporan laba rugi dankemudian
mempunyai bagiann yang menyajikan pos pendapatan komprenhesif lainya. Sebagai alternatif,
yaitu penyajian dua laporan, pertama menyajikan perhitungan laba bersih dalam
satu laporan dan kemudian laporan terkait yang dimulai dengan laba bersih dan
merekonsiliasi menadi pendapatan komprehensif dengan melaporkan pos pendapatan
komprehensif secara terpisah. Alternatif ketiga, yang sring banyak digunakan
oleh perusahaan, adalah hanya menyajikan pos yang merupakan bagian dari
pendapatan komprehensif lainya dalam skedul akumulasi pendapatan komprehensif
lainya dalam laporan perubahan ekuitas konsolidasi. Suatu entitas dapat
menyajikan komponen dari pos pendapatan kpmprehensif lainya bersih dari pajak
atau dapat menyajikan pengaruh agregat pajak terkait dengan total pendapatan
komprehensif lainya dalam suatu angka.
2.4.2
Kepemilikan Minoritas pada Anak Perusahaan Luar Negeri
Sebagian besar perusahan di
Indonesia suka memiliki 100% anak perusahaan luar negerinya. Denagan demikian
akan memungkinkan manajemen lebih efesien atas anak perusahaan dan tidaka ada
keharusan untuk menyusun laporan keuangan anak perusahaan untuk kepemilikan
minoritas harus dihitung dan diperlakukan sebagaimana yang sudah dilelaskan
sebelumnya. Satu-satunya perbedaan adalah alokasi selisih translasi akan neraca
percobaan anak perusahaan luar negeri. Oleh karna itu, sebagai contih, jika PT.
Induk memiliki 80% kepemilikan di German Cempanydan investor lain memiliki
kepemilikan minaritos akan mendapat alokasi sebasar presentase kepemilikan dari
selisih dari translasi melalui proses ayat jurnal eliminasi. Kepemlikan
minoritas di neraca konsolidasi akir tahun akan termasu bagianya atas akumulasi
pendapatan komprehensif lainya dari selisih sebagai berikut.
|
Saham biasa (Rp640.000.000 x 0,2)
|
|
Rp128.000.000
|
|
Saldo laba:
|
|
|
|
Saldo laba awal (Rp160.000.000 x o,2)
|
Rp32.000.000
|
|
|
Ditambah: laba bersih (Rp212.500.000 x 0,2)
|
42..500.000
|
|
|
Dikurangi: deviden (Rp110.000.000 x 0,20)
|
(22.000.000)
|
|
|
Total saldo laba
|
|
52.500.000
|
|
Akaumulasi pendapatan komprehensif
lainya-selisih (Rp110.000.000 x 0,20)
|
|
22.000.000
|
|
Total kepemilikan minoritas
|
|
202.500.000
|
2.5 Pengukuran Kembali Pembukuan ke
Dalam Mata Uang Asing Fungsional
Metode kedua untuk menyajikan
kembali laporan keuangan afiliasi luar negeri ke rupiah adalah pengukuran
kembali. Walaupaun pengukuran kembali untuk umum sebagaiman translasi, terdapat
beberapa situasi dimana mata uang fungsional dari afiliasi asing bukan mata
uang uang lokal. Pengukuran kembali sama sperti translasi di mana tujuanya
adalah untuk mendapatkan nilai setar rupiah dariakun-akun afiliasi asing
sehingga dapat digabungkan atau dikonsolidasi dengan laporan keuangan
perusahaan Indonesia. Akan tatapi, kurs yang digunakan untuk pengukuran kenbali
berbeda dengan kurs yang digunakan dalam traslasi, yang menghasilkan nilai
rupiah yang berbeda untuk akun-akun afiliasi asing.
Proses pengukuran kembali harus
memeberian hasil akhir yang sama seakan-akan transaksi entitas luar negeri
sejak awal telah dicatat dalam rupiah. Oleh karna itu , beberapa transaksi dan
saldo akun disajikan kembali menjadi nilai setara rupiah menggunakan kus
historis.yaitu kus tunai pada saat transaksi awal terjadi. Proses pengukuran kembali
memebagi neraca menjadi akun moneter dan non moneter. Aset dan kewajiban
moneter seperti kas, piutang jangka pendeek dan jangka panjang,dan utang jangka
pendek dan jangka panjang, memepunyai jumlah yang tetap dalam unit mata uang.
Akun-akun ini dapat mengalami keuntungan atau kerugian dari perubahab kurs.
Aset non moneter adalah akun-akun seperti persediaan dan aset tetap, yang
nilainya tidak tetap dalam unit moneter.
Oleh karna igunakan berbagai kers
untuk mengukur kembali neraca percobaan mata uang asing, maka debit dan kredit
dalam neraca percobaan setar rupiah tidak akan sma. Dalam kasus ini, pos
penyeimbang adalah keuntungana atau kerugian pengukurana kembali, yang
dimasukan dalam laporan laba rugi peride berjalan.
2.5.1
Penyajian Laporan Keuangan Dari Keuntungan atau Kerugian Pengukuran Kemnali
Setiap keuntungan atau kerugian yang
timbul dari proses pengukuran kembali dimasukan dalam laporan laba rugi periode
berjalan, umumnya dalam “pendapatan lain-lain”. Digunakan beberpa nama akun,
seperti keuntungan (kerugian) mata uang asing, keuntungan (kerugian) mata uang,
keuntungan (kerugian) nilai tukar, atau
keuntungan (kerugian) pengukuran kembali. Pos keuntungan (kerugian) pengukuran
kembali digunakan disini karena nama ini yang paling mengambarkan sumber pos
tersebut. Keuntungan atau kerugian pengukuran kembali dimasukan dalam laporan
laba rigi periode berjalan karena jika transksi sejal awal dicatat dalam rupiah
, maka keuntungan atau kerugian nilai tukar akan diakui dalam periode berjalan
sebagian dari pentyesuaian yang diharuskan untuk penlaian transaksi luar negeri
yang di dominasi dalam mata uang asing.
2.5.2
Akun-Akun yang Diukur Kembali Menggunakan Kurs Historis
Efek beharga:
-
Efek ekuitas
-
Efek utang yang
tidak diniatkan untuk dipegang sampe jatuh tempo
-
Persediaan
-
Biaya dibayar
dimuka sperti asuransi, iklan, dan sewa
-
Aset tetap
-
Akumulasi
deprsiasi atas aset tetap
-
Paten, maerek
dagang, lisensi, dan formula
-
Goodwiil
-
Aset tak
berwujut lainya
-
Beban dan kredit
ditanggungkan, kecuali pajak ditangguhkan dan biaya perolehan
polisuntukperusahaan asuransi jiwa
-
pendapatan
ditangguhka
-
Saham biasa
-
Saham preferen
yang di catat pada harga dikeluarkan
Pendapatan dan beban terkait dengan
pos nonmoneter, sebadgai contoh:
-
Harga pokok
penjualan
-
Depresiasi aset tetap
-
Amortisasi aset
tak terwujud seperti paten, lisensi, dan lain-lain
-
Amortisasi beban
dan kredit ditanggungkan kecuali pajak ditangguhkan biaya perolehan polis untuk
perusahaan asuransi jiwa.
Pengukuran
kembali eraca percobaan anak perusahaan luar negeri untuk setelah akuisisi
Tiga pos memerlukan perhatian kusus
yaitu:
1. Aset
tetap diukur kembali menggunakan kurs historis pada tanggal induk perusahaan
mengakuisisi anak perusahaan luar negeri. Jika anak perusahaan membeli aset
tetap tambahan setelah induk perusahaan mengakuisisi saham anak perusahaan,
maka tambahan aset tetap tersebur akan diukur kenbali menggunakan kurs pada
tanggal pembelian.
2. Haraga
pokok penjualan terdiri dari transaksi yang terjadi pada berbagai kurs.
3. Beban
operasi juga terjadi pada kurs yamg berbeda.
Keuntungan
pengukuran kembali diakui dalam laporan aba rugi periode berjalan. Keuntungan
pengukuran kembali adalah sebagai pos penyeimbanguntuk memebuat total debit
sama dengan total kredit, tetapi dapat dibuktikan dengan menganalisi perubahan
pos meneter selama periode berjalan.
Ikhtisar
Proses Translasi Pengukuran Kembali
|
Pos
|
Proses
Translasi
|
Proses
Pengukura Kembali
|
|
Mata
uang fungsional luar negeri
|
Unit
mata uang lokal
|
Rupiah
Indonesia
|
|
Metode
yang digunakan
|
Metode
kurs sekarang
|
Metode
moneter-non moneter
|
|
Akun-akun
laba laporan laba rugi pendapatan
|
Kurs
rata-rata tertimbang
|
Kurs
rata-rata tertimbang, kecuali pendapatan terkait dengan pos nonmoneter (kurs
historis)
|
|
Beban
|
Kurs
rata-rata tertimbang
|
Kurs
rata-rata tertimbang, kecuali beban terkait dengan pos nonmoneter (kurs
historis)
|
|
Akun
–akun neraca
|
||
|
Akun-akun
moneter
|
Kurs
sekarang
|
Kurs
sekarang
|
|
Akun-akaun
non moneter
|
Kurs
sekarang
|
Kurs
historis
|
|
Akun-akun modal pemegang saham
|
Kurs historis
|
Kurs historis
|
|
Saldo laba
|
Saldo
periode sebelumnya ditambah laba dikurangi deviden
|
Saldo
periode sebelumnya ditambah laba dikurani deviden
|
|
Selisih
kurs yang timbul dari proses
|
Selisih
translasi diakumulasikan diekuitas pemegang saham
|
Keuntungan
atau kerugian pengukuran kenmbali yang dimasukan dalam laporan laba rugi
periode berjalan
|
2.6 Investasi Luar Negeri dan Anak
Perusahaan Tidak Dikonsolidasi
Sebagian besar perusahaan
mengonsolidasi anak perusahaanluar negeri sesuai dengan PSAK No, 4, “Laporan
keuangan Konsolidasi” (PSAK 4). Dalam beberapa kasus, anak perusahaan tersebut
tidak dikosolidasi, karena kriteria yang diterapkan untuk anak perusahaan luar
negeri, kecuali jika salah satu kondisi berikut sangat ketat sehingga
perusahaan Indonesia yang memiliki perusahaan luar negeri tidak dapat
melaksanakan tingkat pengendalian ekonomis atas sumber daya dan operasi
keuangan anak perusahaan luar negeri yang merupakan syarat konsolidasi, seperti
berikut ini:
1. Pembatasan
pertukaran mata uang asin dinegara asing.
2. Pembatasan
transfer properti dinegara asing.
3. Ketidakpastian
lain yang ditrapkan lain yang ditrapkan olh pemerintah
neraca
perusahaan Indonesia. Perusahaan investor Indonesia harus menggunakan metode
ekuitas jika memepunyai kemampuan untuk melaksanakan “pengaruh signifikan” atas
kebijakan keuangan dan operasional investe.
Jika metode ekuitas digunakan untuk
anak perusahaan luar negeri yang tidak dikonsolidasi, lapran keuangan investee
diukur kembali atau ditranslasikan tergantung pada penentuan mata uang fungsional.
Jika digunakan pengukuran kembali, maka laporan keuangan entitas luar negeri
akan diukur kembali dalam dolar dan investor mencatat presentasenya atas laba
investee dan membuat amortisasi atau penurunan nilai yang diperlukan atas
deferiansial.
2.6.1
Likuidasi Investasi Luar Negeri
Akun selisih translasi terkait
langsung dengan investasi perusahaan dientitas luar negeri. Jika investor
menjual sebagian besar dari investasi sahamnya, PSAK 11 mengharuskan porsi pro rata dari aku akumulasi selisih
trnslasi yang diaolokasikan ke
investasi, dimasukan dalam perhitungan keuntungan atau kerugian pelepasan
investasi. Sebagai contoh, jika induk perusahaan menjual 30% dari investasi
pada anak perusahaan , 30% dari selisih translasi komulatif harus dikeluarkan
dari akun selisih translasi dan dimasukan dalam perhitungan keuntungan atau
kerugian dari pelepasan investasi luar negeri.
2.7 Lindung Nilai Investasi Bersih
dan Anak Perusahaan Luar Negeri
PSAK 55 memeperbolehkan lindung
nilai investasi bersih dianak perusahaan luar negeri. Sebagai contoh, PT. Induk
memepunyai investasi bersih sebesar €50.000 di anak perusahan German, yang
dibayar seharaga Rp660.000.000. PT. Induk dapat memutuskan untuk melindumng
nilai investasiaset brsih dengan melakukan kontrak kurs di muka untuk menjual
euro, atau perusahan dapat mengeluarkan kewajiban berbasis euro. PSAK 55
menetapkan bahwa keuntungan atau kerugian dari bagian efektiv lindung nilai
investasi bersih dimasukan dalam pendapatan komprehensif lainya sebagai bagian
dari selisih translasi.
Sebagai contoh, pada tanggal 1
januari 20X1, PT. Induk memutuskan untuk melakukan lindungnilai bagian
investasinya yang baru saja dilakukan di German Company yang terkait dengan
nilai buku aset bersih German Company. PT. Induktidak yakin apakah kurs
langsung euro akan meningkat ataupun
menurun untuk tahun tersebut dan ingin melindung nilai aset bersihnya. Pada
tanggal 1 Januari 20X1, kepemilikan 100% PT. Induk atas aset bersih German
Cempany sama dengan €50.000, pada tanggalbunga 5% ntuk lindung nilai investasi
di German Company, dan modal serta bunga jatuh tempo dan terutang pada tanggal
1 Januari 20X1.
Sebagai jurnal pada pembukuan PT
Induk untuk mencatat lindung bersih investasi bersih adalah sebagai berikut.
1
Januari 20X1
|
Kas
|
800.000.000
|
|
|
Utang pinjaman (€)
|
|
800.000.000
|
|
Memijam
utang yang didominasi dalam euro untuk lindung nilai investasi bersihdi anak
perusahaan German:
Rp800.000.000
= €50.000 x 16.000 kurs tunai
|
|
|
31
Desember 20X1
|
Pendapatan komperehensi lainya
|
100.000.000
|
|
|
Utang pinjaman
|
|
100.000.000
|
|
|
|
|
|
Bebean bunga
|
42.500.000
|
|
|
Kerugian transaksi mata uang asing
|
2.500.000
|
|
|
Utang bunga
|
|
45.000.000
|
|
|
|
|
|
Akumulasi
pendapatan komperehensif lainya-selisih transaksi
|
100.000.000
|
|
|
Ikhtisar laba rugi (atau saldo laba
|
2.500.000
|
|
|
Kerugaian transaksi mata uang
asing
|
|
2.500.000
|
|
Pendapatan komperehensif lainya
|
|
100.000.000
|
Sehingga,
pada saat modal dan bunga dibayar pada tanggal 1 Januari 20X1, di buat ayat
berikut.
1
Januari 20X2
|
Utang bunga
|
45.000.000
|
|
|
Utang pinjaman
|
900.000.000
|
|
|
Kas
|
|
945.000.000
|
|
|
|
|
Catat
juga bahwa jumlah penggantian kerugian dari pendapatan komperehensif lainya dibatasi
sebesar bagian efektif dari lindung
nilai berdasarkan penilaian kembali aset bersih. Setiap selisih lebih, dalam
kaus ini kerugian Rp2.500.000 dari penilaian kembali utang bunga dalam ayat
jurnal (21), dimasukan dalam laba berjalan di laporan laba rugi.
2.8 Keharusan Pengukuran
PSAK 10 mengharuskan agregat
keuntungan atau kerugian transaksi mata uang asing yang dimasukan dalam laba
untuk diungkapkan terpisah dalam laporan laba rugi atau dalam ham biasa, saldo
laba, dan akumulasi pendapatan catatan atas laporan keuangan.
Dalam
etode translasi, perubahan berkala dalam selisih translasi dilaporkan sebagai
elemen pendapatan komperehensif lainya, sebagaimana yang diharuskan oleh PSAK
11. Neraca akan menampilkan saham biasa, saldoha laba, dan akumulasi pendapatan
komperehensif lainya dalam bagian ekuitas pemegang saham. Selain itu, PSAK 11
mengharuskan pengungkapan catatan kaki dari perubahan kurs yang terjadi antara
tanggal neraca dan pengaruhnya terhadap trasaksi mata uang asing yang belum
diselesaikan, jika signifikan.
2.9 Pertimbangan Tambahan Dalam
Akutansi Untuk Operasi Entitas Luar Negeri
2.9.1 Kertas kerja konsolidasi untuk Kasus Pengukuran Kembali
Kertas kerja untuk kasus pengukran
kembali diasjikan 12-13. Akun-akun untuk German Cempany diperoleh dari
akun-akun pengukura kembali yang dihitung pada figur sebelumnya. Keuntungan
pengukuran kembali dimasukan dalam neraca percobaan anak perusahaan German
Cemany karena sumber dari akun tersebut adalh pengukuran kembali akun – akun
anak perusahaan.
Akun pendapatan dari anak perusahaan
dapat dibuktikan sebagai berikut:
|
Pendapatan
dari anak perusahaan
|
|||
|
|
|
Bagian induk perusahaa atas laba anak
perusahaan ($18.650x1,00)
|
18.650
|
|
Amortisasi paten ($6.000/10 tahun)
|
600
|
|
|
|
|
|
Saldo 31/12/X1
|
18.050
|
Pendekatan
Dua Laporan Untuk Menampilkan Pendapatan Komperehensif
|
PT. INDUK DAN ANAK PERUSAHAAN
Laporan Laba Rugi Konsolidasi
Untuk Tahun Berakir 31 Desember 20X1
|
|
|
Penjualan
|
Rp4.850.000.000
|
|
Harga
Pokok Penjualan
|
|
|
Laba
kotor
|
|
|
Beban
operasi
|
|
|
Kerugian
translasi mata uang asing
|
|
|
Laba
bersih konsolidasi untuk hak pengendali
|
Rp1.556.000.000
|
|
PT INDUK DAN ANAK PERUSAHAAN
Laporan Pendapatan Komperehensif
Konsolidasi
Untuk Tahun Berakir 31 Desember 20X1
|
|
|
Laba
bersih konso lidasinuntuk hak pengendali
|
Rp1.556.000.000
|
|
Pendapatan
komperehensif lainya
|
|
|
Selisih translasi aang asing
|
Rp 117.125.000
|
|
Pendapatan
komperehensif untuk hak pengendali
|
Rp1.673.125.000
|
2.9.2
Laporan Arus Kas
Laporan arus kas adalah penghubung
anatra dua neraca. Perusahaan mempunyai kebasan dan fleksibilitas dalam
penyusunan laporan arus kas. Aturan umum adalah bahwa akun-akun yang dilaporkan
dalam laporan arus kas harus disajikan kembali dalam rupiah menggunakan kurs
yang sama dengan yang digunakan untuk tujuan neraca dan laporan laba rugi. Oleh
karna kurs rata-rata digunakan dalam laporan laba rugi dan kurs tunai akhir
(kurs sekarang) digunakan dalam neraca maka muncul pos penyeimbang untuk selisih
kurs dalam laporan arus kas. Pos prnyeimbang ini dapat di analisis ke akun
spesifik yang menghasilkan erbedaan tersebut, tetapi tidak memengaruhi
perubahan dalam arus kas periode tersebut.
2.9.3
Penilaian Persediaan Nilai Terendah antar Biaya Perolehan dan Nilai Pasar dalam
Pengukuran Kembali
Penerapan aturan nilai terendah antara biaya pero;ehan dan nilai
pasar untuk persediaan memerlukan perlakuan kusus pada saat mata uang
pencatatan bukan mata uang fungsional. Oleh karna itu, laporan keuangan entita
sasing harus diukur kembali terlebih dahulu menggunakan kurs historis untuk
menentukan nilai biaya perolehan historis dalam mata uang fungsional. Kemudian
biaya perolehan hasil pengukuran kembali ini dibandingkan dengan nilai pasar
dari persediaan yang di translasikan menggunakan kurs sekarang. Langkah terakir
adalah memandingkan biaya perolehan dan nilai pasar, yang keduanya sudah dalam
mata uang fungsional, dan untuk mengakui apakah diperlukan penurunan nilai ke
nilai pasar. Perbandingan dilakukan dalam mata uang fungsional, bkan mata uang
lokal atau pelaporan, tetapi tidak ada dalam pembukuan anak perusahaan atau ada dalam pembukuan tetapi tidak dalam
laporan keuangan konsolidasi.
2.9.5
Transaksi Antarperusahaan
Sebuah induk perusahaan atau kantor
pusat indonesia dapat mempunyai transaksi penjualan atau pembelian
antarperusahaan dengan afiliasi luar negeri yang menimbulkan piutang atau utang
antarperusahaa. Proses translasi piutang atau utang yang didenomonasi dalam
mata uang asing. Sebagai contoh, asumsikan bahwa perusahaan Indonesia mempunyai
iutang yang didonimasi dalam mta uang asing dari anak perusahaan luar negeri.
perusahaan Indonesia akan pertama-tama menilai kembali piutang yang
didonominasi dalam mata uang menjadi nilai setara rupiah pada tanggal laporan
keuangan. Setelah laporan keuangan afiliasi luar negeri ditranslasikan atau
diukur kembali, tergantung mata uang fungsional afiliasi luar negeri, maka
piutang atau utang antar perusahaan akan mempunyai nilai rupiah yang sama dan
dapat dieliminasi.
Jika transaksi mata uang antar
perusahaan tidak akan dilunasi dalam waktu dekat, maka transaksi antar
perusahaan tersebut dapat dianggap bagian dari investasi bersih di entitas luar
negeri. Selisih translasi dari piutang atau utang jangka panjang ditangguhkan
dan diakumulasi sebagai bagian dari akun translasi kmulatif.
2.9.6
Pajak Penghasilan
Dihasruskan alokai pajak
antarperiode pada saat ada perbedaan temporer dalam pengakuan pendapatan dan
beban untuk tujuan laporan laba rugi dan tujuan untuk pajak. Keuntungan atau
kerugian selisih kurs dari transaksi mata uang asing mengharuskan adanya pengakuan
pajak tangguhan jika dimasukan dalam laba tetapi tidak diakui untuk tujuan
pajak dalam periode yang sama.
|
Pendapatan komperensif lainya—selisih
translasi
|
xxx
|
|
|
Utang pajak penghasilan
|
|
xxx
|
2.9.7
Translasi Ketika Mta Uang Ketiga adalah Mata Uang Fungsional
Terdapat beberapa kasus di ana anak
perusahaan mempunyai pembukuan dan pencatatan dalam unit mata uang lokal tetapi
mempunyai mata uang ketiga sebagai mata uang fungsional. Sebagai contoh,
asumsikan anak perusahaan kita, German Cempany, mempunyai pencatatan dalam mata
uang lokal, euro. Jika anak perusahaan melkukan sebagian besar aktivitasnya
dalam franc Swiss, maka manajemen dapat memutuskan bahwa franc Swiss adalah
mata uang funsional anak perusahaan. Jika pembukuan dan pencatatan entitas
tidak dinyatakan dalam mata uang fungsional, maka harus digunakan proses dua
langkah berikut:
1. Mengukur
kembali laporan keuangan anak perusahaan kedalam mata uang funsional. Dalam
contoh kita, laporan keuangan dinyatakan dalam euro akan diukur kembali kedalam franc Swiss. Laporan keuangan tersebut
sekarang sudah dinyatakan dalam mata uang fungsional entitas, yaitu franc Swiis
2. Laporan
keuangan yang dinyatakan dalam franc Swiss kemudian ditranslasikan ke dalam
rupiah menggunakan proses translasi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penyajian laporan keuangan afiliasi
luar negeri dalam rupiah dapat dilakukan dengan menggunakan metode traslasi
atau metode pengukuran kembali, tergantung mata uang fungsional entitas luar
negeri. Sebagian besar laporan keuangan afiliasi luar negeri translasikan
menggunakan metode kurs sekarangkarena umumnya unit mata uang lokal adalah mata
uang fungsional. Jika rupiah entitas luar negeri dari mata uang lokal ke dolar.
Pemilihan mata uang fungsional memengaruhi penilaian akan entitas luar negeri
yang dilaporkan dalam laporan keuangan konsolidasi.
3.2 Saran